Pengertian Agregat dan Klasifikasinya

Pengertian Agregat dan Klasifikasinya

Pengertian Agregat

Agregat adalah sekumpulan butir- butir batu pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun buatan (SNI No: 1737-1989-F).

Agregat merupakan material granuler seperti kerikil, pasir, kerak tungku, dan batu pecah dan dipakai secara bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton semen hidraulik atau adukan.

Dalam campuran beton, agregat adalah merupakan pengisi (filter) dan penguat (strenger) serta menempati 60 % – 70 % dari volume total beton sehingga sangat mempengaruhi sifat beton atau mortar. yang diperoleh dari batu pecah.

Klasifikasi Agregat

a. Berdasarkan Asalnya

Agregat menurut asalnya dapat dibagi menjadi dua yaitu agregat alami dan agregat buatan.

  1. Agregat alam

Agregat alam adalah agregat yang terbentuknya secara alami yaitu diakibatkan oleh aliran air sungai dan proses degradasi.

Agregat yang terbentuk dari proses aliran sungai berbentuk bulat dan licin sedangkan agregat yang terbuat dari proses degradasi memiliki bentuk kubus atau bersudut dan permukaannya kasar. 

2. Agregat buatan

Permintaan akan agregat yang berbentuk kubus atau bersudut, bergradasi baik, permukaannya yang kasar terus meningkat dan tidak mungkin seluruhnya dapat dipenuhi oleh alam.

Oleh karena itu manusia membuat solusi dari permasalahan tersebut dengan menciptakan agregat buatan, yaitu agregat yang terbuat dari mesin pemecah batu atau stone crusher dan sambingan pabrik-pabrik semen. Agregat buatan sering disebut filler (material yang berukuran lebih kecil dari 0,075 mm).

b. Berdasarkan Ukurannya

  • Agregat Halus

Agregat halus yang digunakan untuk pembuatan beton dapat berupa pasir alam hasil dari desintegrasi alami dari batuan-batuan atau pasir buatan yang dihasilkan oleh stone crusher. 

Agregat halus memiliki ukuran0,063 mm – 4,76 mm yang meliputi pasir halus (Fine Sand) dan pasir kasar (Coarse Sand). Untuk beton khusus menggunakan agregat halus khusus seperti beton penahan radiasi menggunakan serbuk baja dan serbuk besi pecah.

Menurut PBI, agregat halus memenuhi syarat:

  1. Agregat halus terdiri dari butiran yang beraneka ragam besarnya.
  2. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% berat kering, jika kadar lumpur lebih dari 5% dan akan digunakan untuk campuarn beton maka agregat halus dicuci terlebih dahulu, atau bisa langsung digunakan tetapi kekuatan beton menjadi berkurang 5%.
  3. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan organik (zat hidup) terlalu banyak dan hal ini harus dibuktikan dengan percobaan warna dari ABRAMS-HARDER dengan larutan NaOH 3%.
  4. Agregat halus harus terdiri dari butiran-butiran tajam, keras, dan bersifat kekal artinya tidak hancur oleh pengaruh temperature dan cuaca, seperti hujan, terik matahari, dan lain-lain.
  5. Angka kehalusan (Fineness Modulus) untuk Coarse Sand antara 3,2 – 4,5.
  6. Angka kehalusan (Fineness Modulus) untuk Fine Sand anatara 2,2 – 3,2.

Agregat halus yang tidak memenuhi percobaan tersebut masih dapat dipakai jika kekuatan tekan adukan agregat pada umur 7 dan 28 hari tidak kurang dari 95% dari kekuatan adukan agregat yang sama, tetapi dicuci terlebih dahulu dalam larutan NaOH 3% yang kemudian dicuci bersih dengan air pada umur yang sama.

  • Agregat Kasar

Agregat kasar (Coarse Aggregate) atau biasa disebut juga kerikil adalah hasil dari desintegrasi alami dari batuan atau atau berupa batu pecah yang dihasilkan oleh stone crusher dengan ukuran butirannya antara 4,76 mm sampai 150 mm.

Ketentuan agregat kasar antara lain:

  1. Kadar bagian yang lemah jika diuji dengan goresan batang tembaga maksimum 5%.
  2. Angka kehalusan (Fineness Modulus) untuk Coarse Aggregate antara 6 sampai 7,5.
  3. Agregat kasar untuk beton bisa berupa kerikil alam dari batu pecah.
  4. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat yang dapat merusak beton seperti zat yang bersifat alkali.
  5. Agregat kasar harus lulus tes kekerasan dengan bejana penguji Rudeloff dengan beban uji 20 ton.
  6. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dalam berat keringnya dan apabila melampaui maka agregat tersebut harus dicuci.
  7. Agregat kasar harus terdiri dari butiran yang tidak berpori dank eras. Agregat kasar yang butirannya pipih hanya bisa dipakai apabila jumlah butir pipihnya tidak melebihi 20% berat agregat seluruhnya.

Share and Enjoy !

Shares